PROPOSAL PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN BISNIS

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Kini pelatihan kewirausahaan sangat digencarkan oleh pemerintah RI, baik pemerintah pusat hingga ke pemerintah daerah. Banyak juga lembaga-lembaga pemerintah, BUMN, swasta dan LSM yang juga mengembangkan program yang serupa, baik secara gratisan, berbayar maupun dibiayai oleh angaran-anggaran APBN,APBD,CSR maupun dana pribadi perorangan yang intens dan perhatian dengan program kewirausahaan ini. Eforia pelatihan kewirausahaan mewujud ke berbagai model dan atau bentuk seperti seminar, diskusi, workshop, bussiness meeting, studi banding, kunjungan lapangan, dll.

Bbeberapapelaku bisnis UMK sedang pameran produk-produknya

Eforia kewirausahaan sangat terasa sejak negeri ini mengalami krisis moneter tahun tahun 1998-an. Sejak awal era reformasi itulah orang baru tersadarkan betapa ternyata pelaku UMKM mampu menjadi penyelamat negeri ini. Pelaku bisnis UMKM kita mampu melewati krisis ini dengan menggembirakan. Ternyata mereka tangguh dan sangat elastis, akomodatif dan sangat dinamis dengan situasi jaman  di saat-saat sulit itu.

Begitu krisis moneter tiba saat itu, banyak sekali bisnis konglomerasi yang tumbang dan mem-PHK karyawannya. Pengangguran meningkat tajam, kemiskinan semakin banyak dan kesulitan ekonomi rakyatpun tak terelakkan. Krisis meraja lela dan kesulitan hidup masyarakat kian  berkepanjangan hingga pengaruhnya beberapa orang di negeri ini masih merasakan itu hingga saat ini.

Dua dasa warsa terakhir telah banyak program pelatihan kewirausahaan yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta, namun disaat itu pula ternyata kita masih belum menyaksikan revolusi jumlah pengusaha di negeri ini.

Berbagai data spt Kementerian Koperasi dan UMKM  RI dan BPS menyatakan bahwa jumlah pengusaha nasional masih sangat minim, sekitar 1,56 % dari jumlah penduduk usia produktif di negeri ini. BPS bahkan menyatakan bahwa jumlah sarjana di negeri ini hanya 5,3 % yang mendiri menjadi pengusaha, semengtara 83,1 % sarajana S-1 adalah menjadi karyawan. Ini artinya semakin tinggi pendidikan seseorang di negeri ini hanya akan menjadi karyawan, buruh dan kuli. Alumni Diploma rata-rata 88,8 % itu menjadi karyawan. Mereka yang menjadi pengusaha terbanyak dari mereka yang berpendidikan terbatas, yakni alumni SD 22 % dan tamat SMP 20 %. Ini artinya mereka yang saat ini menjadi pengusaha maka yang terbanyak adalah dengan kapasitas pendidikan rendah dan terbatas, sementara kaum terdidik, pintar dan sarjana maka mereka asyik menjadi karyawan, kuli, buruh dan membesarkan bisnis orang lain (bahkan bisnis orang asing).

Sejak kelahirannya 26 September 2006 hingga kini   LPEC terlibat aktif menggelar berbagai pelatihan kewirausahaan, seminar, diskusi, workshop, bazar, dll. Delapan tahun lebih kita ikut aktif pelatihan-pelatihan kewirausahaan yang diinisiasi oleh pemerintah, seperti Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Sosial, Kementerian Perdagangan dan Industri, Kementerian Pemuda dan Olah Raga, dan berbagai BUMN , dan perusahaan swasta lewat program CSR-nya. Apa yang terjadi pada pelatihan kewirausahaan itu? Yang pasti secara kuantitatif sudah ribuan orang  sudah kita latih. Namun sayangnya secara kuantitatif masih banyak kelemahannya. Diantara kelemahan-kelemahan pelatihan kewirausahaan yang selama ini ada antara lain :

  1. Pelatihan kewirausahaan itu lebih banyak serimonialnya dari pada tuntutan mencapai kualitas pelatihan yang semestinya.

Pelatihan itu lebih banyak karena tuntutan si penyelenggara untuk memenuhi laporan pertanggungjawaban administratif seperti LPJK (Laporan Pertanggungjawaban Kegiatan). Yang penting acara terselenggara, ada bukti foto-foto kegiatannya, ada berita acara dan absensi kehadiran peserta dan didukung berbagai dokumen adminsitarasi lainnya, sehingga acara itu sudah terlaksana “dengan baik”. Walaupun pagu acara 5 hari namun hanya terselenggara 3 atau 2 hari itu tidak penting lagi bagi penyelenggara. Acara yang semestinya 3 hari namun dilaksanakan satu hari itu juga tidak apa-apa. Yang didatangkan menjadi pembicara pun juga terkadang tidak berkompeten di bidang kewirausahaan, namun itu juga sudah tidak penting lagi. Yang penting tidak ada protes dan ramai-ramai yang menggugat acara tersebut. Pelatihan itu berkualitas atau tidak, bukanlah menjadi urusan penting bagi para pejabat pemerintahan itu. Apakah peserta yang dilatih menjadi pengusaha atau tidak, itu juga tidak penting lagi, karena tidak ada tool atau alat dan atau cara untuk memantau mereka yang sudah ikut pelatihan itu apakah mereka benar-benar menerapkan ilmu bisnis yang dilatih atau tidak. Peserta pelatihan bangkrut atau eksis setelah beberapa bulan ikut pelatihan tidaklah dievaluasi atau dipantau sebagaimana yang seharusnya.

Secara substansi rakyat yang menjadi peserta pelatihan itu tidak berubah lebih maju itupun tidak merasa berdosa bagi para pejabat pemerintahan itu. Yang penting pagu anggrana dengan selesainya acara terebut sudah bisa turun dan tahun depan dibuatkan lagi program yang sama. Begitu berulang-ulang dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun, tidak ada yang berubah secara substantif. Metodenya sama, materinya sama, caranya juga sama. Maka itu hasilnya sangat minim secara kualitataif. Maka itu kini tidak heran ada beberapa orang yang “enggan” mengikuti pelatihan itu  kecuali sekedar motif untuk memperoleh uang transpor atau sekedar rekreasi.

Sungguh ini hal yang sangat ironi mengingat dana yang dikerahkan selama sangatlah besar namun hasilnya sangat minimalis.

  • Materi pelatihan kewirausaan yang tidak pernah naik kelas.

Materi yang disajikan dalam pelatihan kewirausahaan tidak pernah dibuat peserta naik kelas. Kurikulumnya dari tahun ke tahun tetap saja seperti itu. Kalau kita misalkan seperti anak sekolahan maka pelatihan kewirausahaan yang ada selama ini pada level kelas TK atau Kelas 1 SD. Dari waktu ke waktu peserta disodorkan pada kurikulum dan materi yang tidak pernah berubah dan tetap saja materi yang tidak membuat mereka bisnisnya naik kelas. Mereka tidak bisa dan tidak pernah berobah jadinya.  Maka itu hasilnya dari pelatihan itu peserta tetap saja bisnisnya tidak berubah, mereka yang menjadi pengusaha mikro ya tetap mikro, yang menjadi pengusaha kecil ya tetap menajdi pengusaha kecil.

Semestinya kurikulum dan materi harus diberikan sedemikian rupa sehingga peserta memperoleh arahan dan panduannya untuk perlahan tetapi pasti bahwa mereka bisa bekembang dari usaha mikro, lanjut menjadi usaha kecil,dan melesat untuk menjadi pengusaha kelas menengah dan kelas usaha besar. Harus ada semacam panduan atau petunjuk arah yang jelas sehingga mereka secara perlahan dan pasti bisa selalu naik kelas dalam berbisnis.

Mereka tidak bisa naik kelas karena pelajaran bisnis kelas 6 SD tidak pernah diajarkan. Bagaimana mereka naik menjadi kelas SMP, SMA dan atau Perguruan Tinggi, kalau pelajarannnya selalu berulang di kelas 1 SD?  Semestinya ada bimbingan dan pendampingan bisnis yang memungkinkan setiap pengusaha memiliki arah dan tujuannya dengan kompas yang jelas untuk naik kelas dalam berbisnis.

  • Politik Anggaran yang tidak mendukung Pelatihan Kewirausaan seperti yang seharusnya dilakukan

Politik anggaran yang ada spiritnya bukanlah spirit pemberdayaan masyarakat, namun lebih kepada spirit proyek. Setiap program pelatihan kewirausahaan lebih dituntut secara politis untuk sekedar pencairan anggaran dari suatu proyek di kementerian atau pemetintah daerah di seluruh pelosok negeri ini dari pada tuntutan kualitatif meningkatkan kualitas pelaku bisnis UMKM itu sendiri.

Lihat saja pada bulan-bulan setelah Juli hingga akhir tahun selalu saja terulang bahwa pelatihan kewirausahaan itu sekedar memenuhi tuntutan proyek,SPJ,LPJK, bahkan beberapa sekedar untuk memuaskan para politisi merawat konstituennya. Yang penting realisasi anggaran APBN/APBN segera terlaksana dan selesai.

  • Etos dan Spirit yang muncul adalah spirit untuk menjadi pegawai.

Dari sisi peserta pelatihan kewirausahaan yang ada dan berkembang adalah satu fakta bahwa mereka selama ini bukan kemauan mereka untuk menjadi pengusaha. Maindset yang terbentuk selama ini adalah mindset karyawan, buruh dan kuli. Mental mereka tidak tangguh dan selalu bermotifkan ingin cepat sukses (kaya). Pola pikir instan terebut meraja lela dikalangan anak bangsa sehingga inilah yang paling menyulitkan dalam setiap sesi pelatihan kewirausahaan. Maka itu kalau pelatihan kewirausahaan tidak bisa menyentuh ranah mindset ini, sehingga mereka bisa berubah dari pola pikir karyawan menjadi pola pikir entrepreneur secara permanen, maka pelatihan itu bisa disebut sebagai pelatihan kewirausahaan yang gagal.

  • VISI

One Family One Entrepreneur

  • MISI
  • Menciptakan pengusaha baru bagi setiap anak bangsa
  • Meningkatkan kualitas SDM Pengusaha Indonesia
  • Memotivasi dan memberi inspirasi untuk naik kelas bisnisnya pengusaha Indonesia, khususnya pelaku bisnis UMKM
  • TUJUAN
  • Memberikan arah dan kompas (petunjuk) bagi pelaku UMKM untuk terus bisa naik kelas bisnisnnya
  • Untuk melakukan pendampingan bisnis bagi pelaku UMKM
  • PROGRAM PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN

Program ini akan berlangsung 6 bulan lebih, atau tepatnya sekitar 180 hari. Total pertemuan 13 kali setiap dua minggu sekali selama 6 bulan tersebut.

Pertemuan pertama selama satu hari full dari jam 08.30 – 21.00. Satu kelas minimum bisa terselenggara jika ada 15 orang, maksimum 30 orang. Seluruh peserta yang diundang ke kelas ini adalah mereka yang sudah menyelesaikan seluruh administrasi dan finansialnya, sesuai dengan zonasinya mereka mengikuti pelatihan. Tempat di ruang aula ber-AC. Peserta memperoleh coffe break dan makan di hari itu. Materi pelatihan di hari pertama meliputi: How to change your mindset?,Business Motivation,  Tertimonial and Teknical Coaching.

Program Pelatihan Kewirausahaan ini sangat berbeda dengan pelatihan kewirausahaan yang selama ini ada di berbagai kementerian atau yang dilaksanakan pemerintah daerah. Sebab pelatihan kewirausahaan ini dirancang sebagai sulusi atas berbagai problem pelatihan kewirausahaan yang selama ini ada.

Kalau barangkali anda pernah mengenal pelatihan kewirausahaan yang mengajarkan bagaimana memproduksi kue, memproduksi baju, menjahit, service hand phone, service otomotif  atau limbah plastik, produski sesuatu berbasisikan tepung, beras, rumput laut, atau teknik memelihara hewan atau ikan dan berbagai pelatihan kewirausahaan yang secara teknis menampilkan tematik tertentu. Maka pelatihan teknis produksi seperti itu tidak ada dalam kurikulum yang ada di pelatihan LPEC.

Pelatihan teknis itu jika berhasil  menjadikan mereka sebagai pengusaha semestinya banyak alumni Balai Latihan Kerja (BLK) di Kementerian /Dinas Tenaga Kerja di seantero negeri ini semestinya mampu melahirkan banyak pengusaha. Namun faktanya dari proses pelatihan seperti itu hanya melahirkan tukang produksi sesuatu produk. Mereka bisa menjadi tenaga kerja untuk memproduksi sesuatu namun belum tentu mereka menjadi pengusaha seperti yang dilatih tersebut.

Lihatlah para ibu yang setiap hari bisa membuat masakan lezat untuk suami dan keluarganya, namun berapa banyak ibu-ibu itu yang mampu menjadikan menu masakannya sebagai bisnis warung makan, resoran atau katering? Mereka ahli membuat kue setiap lebaran atau natal, namun berapa mereka yang sudah kursus membuat kue itu mampu menjadi pengusaha kue? Sebagian mereka hanya bisa membuat produk, namun tidak sedikit yang tidak bisa menjadikannya sebagai bisnis. Mereka tidak bisa menjadikan hasil produksinya sebagai bisnis yang mampu menghasilan uang secara berkelanjutan lewat bisnisnya. Banyak diantara mereka yang hanya mampu memproduksi suatu barang namun tidak bisa berjualan, tidak mampu menjadikannya sebagai usaha yang berkelanjutan.

Jadi problemnya orang untuk menjadi pengusaha ternyata bukanlah bagaimana memproduksi sesuatu barang/produk. Namun yang lebih penting dari itu ada banyak hal yang harus diketahui, dijalankan dan diimplemantasikan dilapangan sehingga sesuatu produk itu bisa menjadi bisnis. Sebab problem utama orang untuk menjadi pengusaha bukanlah ada di produk/jasanya namun problem itu ada di orangnya yang akan menjadi pengusaha. Maka itu pelatihan di LPEC terfokus pada bagaimana merubah orangnya atau si pelaku bisnis itu untuk bisa benar-benat menjadi pemain di lapangan dari pada sekedar teori atau sekedar bisa memproduksi sesuatu produk/jasa.

Sebagai contoh, bahwa untuk bisa memproduksi kue cukup anda lihat resep di buku-buku resep masakan yang beredar di toko buku atau anda cari resep masakan yang anda suka di internet maka anda praktekkan sesuai petunjuk resep tersebut kami yakin  anda dengan cepat bisa memproduksi makanan atau produk apapun yang anda inginkan.

Namun demikian apakah setelah anda berhasil membuat suatu produk maka produk tersebut bisa langsung menjadi bisnis yang menghasilkan uang secara berkelanjutan? Ternyata tidak. Itulah mengapa alasan utama LPEC tidak menjadikan itu sebagai fokus kurikulumnya.

Problem mengapa orang tidak jadi pengusaha adalah bukan ada di produknya apa, atau jasanya bagaimana, atau berapa uang modalnya, namun problem utama orang tidak jadi pengusaha adalah ada di dalam diri orang tersebut. Artinya sesungguhnya setiap orang sudah punya modal yang ada di dalam dirinya untuk menjadi pengusaha. Hanya masalahnya apakah modal yang sudah ada di dalam diri setiap orang itu dikembangkan di tempat persemaiannnya yang kondusif atau justru sebaliknya?

Modal apakah yang ada di dalam diri orang tersebut sehingga dia selama ini tidak atau belum jadi pengusaha?

  1. Modal Utama

Modal Utama dalam berbisnis ini berupa ide dan atau gagasan. Seluruh bisnis apapun harus dilandasi dengan gagasan yang benar, ide-ide besar dan visioner. Jika ide anda itu berjangka pendek atau instan maka sangatlah mudah bisnis anda tumbang. Seseorang mampu bertahan dalam badai bisnisnya dari segala model kebangkrutannya maka dia akan tetap bangkit kembali karena gagasan dan ide bisnisnya yang visioner itu tidak pernah pudar. Maka itu bisnis yang hanya berorientasi jangka pendek atau sekedar ikutan latah yakinlah itu dengan mudah sirna. Modal utama inilah yang membuat setiap pengusaha mampu menjadi tangguh dalam menjalankan bisnisnya walau berbagai terpaan badai menghadang.

Uang bukanlah modal utama, sebab berapapun uang anda kalau ide atau gagasan bisnisnya tidak ada, maka uang tidaklah menjadi profit. Maka itu cara berfikir orang bahwa modal uang adalah hal yang utama dalam berbisnis ini merupakan cara pandang yang salah dan sesat.

Kalau anda memiliki uang yang banyak lalu besok pagi ingin jadi pengusaha, maka semua orang juga bisa. Anda tinggal membeli produk yang mau anda jual lalu jadilah anda besok pagi sebagai seorang pengusaha. Namun demikian kalau ternyata sebulan, dua bulan, enam bulan atau setahun bisnis anda oleng dan bangkrut maka itulah bisnis yang anda harapkan? Ternyata tidak cukup anda memiliki uang saja untuk menjadi pengusaha.

Namun kalau anda tidak memiliki modal yang cukup lalu minggu depan atau bulan depan anda harus jadi pengusaha yang menghasilkan uang secara berkelanjutan, maka di Lembaga Pendidikan Entrepreneru College lah anda belajarnya. Belajarlah ilmu bisnisnya dahulu maka anda bisa memiliki bisnis tanpa uang. Belajarlah ilmu bisnisnya maka anda tahu caranya membuat warung,toko atau bisnis anda memiliki cabang dan berkembang dimana-mana. Belajarlah ilmu bisnisnya dahulu maka anda akan tahu taktik dan strategi bagaimana memperoleh modal dari bank dan atau investor.

Dengan ilmu bisnis yang benar maka anda akan tahu bagaimana caranya bisnis anda berkembang dengan benar dan bagaimana bisnis ini seharusnya dikelola dengan benar. Arah dan goal yang benar dalam berbisnis maka akan  meminimalkan resiko dari kesulitan bisnis kita.

Uang itu penting namun itu bukanlah yang utama. Segalanya memerlukan uang namun yakinlah uang bukanlah segalanya dalam hidup kita.

  • Modal Awal

Modal awal dalam berbisnis adalah keberanian. Anda harus menumbuhkan keberanian yang selama ini terselimuti oleh ketakutan dan berbagai mental blok lainnya.

Berani mencoba, berani bermimpi, berani gagal, berani sukses dan berani mengambil resiko apapun yang terjadi atas semua yang kita sudah putuskan.

Menumbuhkan itu semua yang ada didalam diri kita memerlukan proses yang terus berulang. Prosesnya tidak instan dan banyak sekali penggodanya. Maka itu dibutuhkan konsistensi untuk melatih itu semua agar menjadi prilaku yang baik dalam berbisnis.

  • Modal Abadi

Modal abadi dalam berbisnis andalah mindset atau pola pikir yang ada didalam diri kita. Kalau maindset anda selama ini harus terus menjadi karyawan maka anda pun akan menjadi karyawan. Kalau mindset anda berubah menjadi mindset pengusaha maka menjadi pengusaha sudah bisa dipastikan itu hal yang sangat mungkin terjadi. Anda pun bisa jadi pengusaha karena anda berfikir jadi pengusaha.

Sebab selama ini hidup kita atau prilaku kita adalah menuruti fikiran kita. Fikiran kita adalah leader yang mengarahkan seluruh prilaku kita. Apa yang kita fikirkan maka itulah yang akan terjadi. Maka itu anda harus berubah pola pikirnya dengan pola pikir pengusaha kalau ingin menjadi pengusaha.

Ketiga modal diatas itu sejatinya ada di dalam diri setiap kita dan atau tersedia sangat mudah di lingkungan kita. Masalahnya bagaimana mempergunakan ketiga modal tsb? Bagaimana memberdayakan ke tiga modal tsb? Bagaimana ke tiga modal tersebut betul-betul bisa kita ekplorasi menjadi kekuatan kita dan terimplementasi dalam bisnis kita?

Bagaimanakah ketiga modal itu bisa menjadi kekuatan utama kita yang akan menggerakkan langkah-langkah bisnis kita selanjutnya? Ketiga modal tersebut bukanlah kelemahan, namun kekuatan yang ada di dalam setiap individu kita. Menjadi tugas kita semua secara bersama untuk memastikan ketiga hal itu akan menjadi faktor pemicu sukses hidup kita ke depan, khususnya dalam berbisnis.

LPEC-lah yang akan memberikan jawabannya dan menghujamkannya ke dalam diri anda sehingga potensi terhebat anda melecut menjadi sesuatu yang fenomenal dan dahsyat dalam kehidupan masa depan anda, khususnya dalam berbisnis. LPEC akan menjadikan modal besar yang ada di setiap individu tersebut merasuk menjadi kekuatan yang tereksplorasi secara baik bagi setiap peserta pelatihan kewirausahan untuk menjadi kekuatan tangguh yang tumbuh dari dalam diri sendiri.

Karena seluruh peserta datang dari latar belakang yang berbeda maka sesi awal satu hari ini wajib diikuti semua peserta sampai selesai. Inilah sesion untuk menyamakan persepsi dan  menyatukan visi dan misi mengapa kita semua ada di lembaga LPEC dan apa yang akan kita lakukan bersama setelah anda semua ada didalam gerakan One Family One Entrepreneur yang menjadi visi besarnya LPEC. Acara selanjutnya akan diikuti oleh penjelasan dan atau pengumuman lainnya dari manajemen LPEC untuk proses pendampingan selanjutnya.

  • PROGRAM PENDAMPINGAN BISNIS

Pendampingan bisnis ini akan berlangung selama 12 kali pertemuan setiap dua minggu sekali. Inilah pertemuan tatap muka yang wajib diikuti semua peserta setiap dua minggu sekali selam a 6 bulan.

Pertemuannya secara teknis berlangsung di lokasi bisnis peserta dan atau mentor pendampingnya. Peserta wajib datang ke alamat yang diberikan manajemen LPEC setiap ada sesi pendampingan bisnis.

Pertemuan berlangsung dari jam 09.00 – 14.00 atau sekitar 5 jam (@ 60 menit). Atau, bisa saja di waktu lain seperti dari jam 18.00 – 23.00, yang penting berkisar 4-5 jam  dalam setiap sesi pertemuannya. Hari dan tanggalnya akan disepakati bersama saat pertemuan pertama berlangsung dan atau mengikuti jadwal yang sudah ditentukan manajemen LPEC.

Mentor yang akan didatangkan ke peserta mengumpul dan atau peserta yang akan mendatangi tempat usaha/tinggal para mentornya. Secara teknis manajemen LPEC akan menginformasikan selambat-lambatnya 3 hari sebelum halaqoh (pertemuan kelompok) tersebut berlangsung via email, sms, WhatsApp,BBM, dan media sosial lainnya.

Pertemuan dibuat bergiliran di tempat usaha yang selalu berbeda dimaksudkan supaya mentor benar-benar bisa hadir sebagai konsultan bagi bisnis peserta. Dengan cara seperti itu maka bisnis yang diajarkan bukanlah teori tanpa implementasi, namun implemantasi yang dikuatkan dengan argumen-argumen yang realistis,bahkan tidak jarang itu adalah pengalaman yang sangat inspiratif untuk ditularkan. Apa yang dilakukan dalam pendampingan ini merupakan sesuatu yang membumi dan implementatif, bukan sesuatu yang mengawang sekedar berteori.

Hadirnya konsultan bagi pelaku bisnis pemula dan atau pelaku UMKM sangatlah penting dan sangat diperlukan. Namun demikian menghadirkan konsultan bagi sebuah bisnis UMKM sangatlah mahal sehingga tidaklah mampu untuk membayarnya. Namun demikian kabutuhan akan konsultan bagi pelaku UMKM sangatlah diperlukan. Kebutuhan itu nyata adanya. Untuk itulah program ini dihadirkan LPEC untuk memastikan seluruh pelaku UMKM yang menjadi anggotanya memperoleh konsultan yang berkualitas dengan biaya yang sangat murah.

Hal tersebut karena LPEC ingin melahirkan pelaku bisnis yang nyata sukses di lapangan. Bukan sekedar kesuksesan akademik seperti Fakultas Ekonomi yang ada di berbagai perguruan tinggi dan atau sekedar berteori seperti para pengamat dan atau komentator. Sekali lagi, seluruh kurikulum ini dirancang untuk memastikan seluruh pesertanya menjadi pengusaha secara riil dan tidak terjebak pada “bisnis rencana” dan atau hal lain yang tidak bisa diimplementasikan. Kita ingin melahirkan pelaku bisnis yang jatuh, bangun dan suskses benar-benar tahu apa yang terjadi dilapangan bisnisnya.

BULAN I

Di bulan Pertama maka tema yang diusung dalam setiap pertemuan dengan para mentor adalah masalah Mindset atau perubahan pola pikir setiap peserta.

Bagaimana merubah pola pikir peserta yang selama ini berpikir untuk menjadi karyawan,kini dengann pelatihan ini  harus berubah menjadi berpola pikirkan entrepreneurship dalam setiap ide dan gagasan berfikirnya, tutur kalimatnya, gerak langkahnya,hingga implementasinya di lapanangan bisnis. Maka itu di bulan pertama harus memuat 3 pokok bahasan utama, yaitu :

  1. Menyamakan persepsi/merubah mindset bisnis anggota
  2. Membuka wacana bisnis anggota
  3. Membangun komitmen target pencapaian bisnis anggota
  4. Motivasi bisnis

Banyak orang berbisnis gagal karena mindset berfikirnya salah,mimpi bisnisnya salah, motiv dan cita-cita bisnisnya salah dan pola berfikir yang dibangun tidak seharusnya. Banyak orang bangkrut karena kontrsuksi berfikirnya salah sehingga melahirkan tindakan yang salah. Tentu semua itu akan mempengaruhi hasil akhir seperti apa yang diinginkan dalam berbisnis. Karena fikiran anda akan melahirkan tindakan, tindakan anda akan melahirkan kebiasaan, kebiasaan anda akan menjadi prilaku (watak/karakter) dan dari prilaku akan menentukan rizki dan masa depan kehidupan kita. Bagaimana merubah mindset kita supaya bermindsetkan entrepreneurship?

Judul Materi bebas diserahkan ke mentor, namun tidaklah melenceng dari kurikulum yang sudah disampaikan oleh manajemen LPEC kepada para mentornya. Adapun metodologi penyampaian materinya sangat dinamis dan kreatif oleh para mentor. Bisa menggunakan komputer,infocus, dialog lesehan, role play, game dll.

BULAN II

Di bulan Kedua, fokus kurikulum pada pokok bahasan Business Opportunity

Peluang-peluang bisnis apa yang akan dan telah menjadi pilihan anggota haruslah sudah jelas mengapa setiap anggota memilih bisnis tersebut.  Di sini semua peserta harus sudah dipastikan memilih jenis bisnisnya untuk dilakukan pendampingan bisnis pada pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Apabila di bulan ke dua ini peserta belum memiliki pilihan bisnisnya maka LPEC akan memberikan beberapa alternatif bisnis untuk dijalankannya. Ada 5 s/d 10 jenis bisnis yang sudah disiapkan LPEC untuk dijalankan oleh peserta dan atau djadikan sebagai tempat magangnya. Bagaimana teknis pemagangannya dan bagaimana teknis memilih alternatif bisnis yang sudah disiapkan LPEC, maka akan disampaiakan saat pendampingan itu berlangsung.

Di bulan ini sekurang-kurangnya fokus materi bahasan juga meliputi al :

  1. Menggali problem bisnis anggota
  2. Menformulasikan bisnis sesuai kemampuan anggota

BULAN III

Tema utama pendampingan bisnis di bulan ke 3 ini adalah Marketing. Marketing menjadi tema penting karena lewat marketinglah perusahaan yang kita bangun bisa berkelanjutan eksistensinya. Penjualan produk/jasa yang menjadi fokus bisnis kita adalah materi yang harus difahami dan dipraktekkan di lapangan dengan kemampuan anda melipatgandakan omset. Karena itu menjual harus menjadi kemampuan dasar setiap pengusaha yang harus terus diulang dan diulang terus.

Banyak orang memiliki produk dan atau bisa memproduksi suatu barang namun belum tentu bisa menjualnya. Kalau produk yang anda miliki tidak terjual maka anda tidak bisa melanjutkan bisnis ini. Maka itu kemampuan marketing dan selling skill menjadi kemampuan wajib yangharus dimilikisetiap peserta training ini.

Materi ini tidak semata-mata materi teori, namun marketing yang implemantatif. Semua produk harus dibuktikan di lapangan apakah itu betul-betul produk yang dibutuhkan konsumen. Maka itu pelatihan skill tetang selling skill merupakan kemampuan yang wajib dikuasai oleh seluruh peserta.

Selling skill akan disampaikan dengan cara praktek langsung dilapangan dengan membawa produk tertentu dan atau bahkan tidak menggunakan suatu produk apapun. Peserta akan turun langsung di lapangan dengan praktek penjualan secara directselling. Peserta harus belajar menemui konsumennya secara langsung, belajar mengidentifikasi problematika bisnisnya saat di lapangan, belajar menghargai proses mendapatkan uang dari hasil penjualan produk/jasa bisnisnya, belajar dari kebangkrutan sehingga anda bisa memastikan bisa bangkit dari keterpurukan bisnisnya, dan bisa memastikan anda mampu menangkap peluang bisnis yang ada di sekitar anda.

Yang lebih penting dari itu setiap peserta tahu bagaimana sebuah bisnis yang kita pilih ada resikonya. Apapun resiko bisnis yang sudah kita pilih maka anda harus bertanggungjawab dan tidak boleh menghindar dari semua resiko atas semua keputusan yang diambil di perusahaa atau bisnis anda. Seni mengelola resiko bisnis adalah pelajaran sangat berarti yang harus terus dipraktekkan dalam bisnis anda kelak.

Dengan menjalankan praktek lapangan maka anda bisa memastikan bahwa bisnis itu bukanlah teori tetapi haruslah dipraktekkan di lapangan. Semua peserta dipastikan mampu menyebur ke “kolam air”  sehingga tahu rasanya bagaimana menjadi “seorang perenang”. Tidaklah cukup hanya dengan materi teori untuk menjadi perenang, demikian halnya tidaklah cukup dengan materi teori untuk menjadi pengusaha. Semua materi kewirausahaan haruslah mampu diperaktekkan di lapangannya.

Materi di bulan ke 3 ini  akan meliputi antara lain hal-hal sbb:

  1. Menyiapkan produk siap ke pasar
  2. Melatih kemampuan penjualan (selling skill)
  3. Setiap peserta harus sudah memiliki pilihan bisnisnya

Sehingga tidak ada satu pun peserta pelatihan ini yang di bulan ketiga belum memiliki usaha. Semua dipastikan sudah memiliki bisnis dan semua dipastikan bisnis itu berkembang dengan baik.

BULAN IV

Materi kajian di bulan ke 4 adalah Capacity Building. Artinya kajian di bulan ini akan meliputi hal-hal yang menyangkut problematika bisnis di internal perusahaan anda.

Hal-hal yang menyangkut internal dan itu sangat penting misalnya bagaimana merikut karyawan, apa legalitas bisnis yang akan digunakan, bagaimana mengelola bisnis dengan menajemen dan leadershipnya yang cocok untuk bisnis yang sedang dijalaninya. Masalah bagaimana membuat laporan keuangan dan membangun tim bisnis yang solid juga menjadi fokus pendampingan.

Maka itu materi akan meliputi antara lain :

  1. Menertibkan administrasi perusahaan
  2. Membangun manajemen perusahaan yang baik
  3. Melatih kemampuan membangun tim SDM dan organisasi bisnis
  4. Teknik mengurus legalitas usaha

BULAN V

Fokus kajian pada bulan ke 5 adalah How to development your business? Bagaimana mengembangkan bisnis, itu menjadi kajian dalam pendampingan bisnis kali ini.

Materi ini disajikan karena peserta harus tahu arah selanjutnya dalam berbisnis, yaitu pengembangan usaha. Bisnis tidak boleh stagnan dan atau berhenti ditempat. Ganti produk itu boleh, namun berhenti bisnis itu tidak boleh. Semangat itulahyang membuat bisnis kita harus terus berkembang.

Sisi lain adalah bahwa bisnis yang kita miliki haruslah terus memberi manfaat kepada sebanyak mungkin orang lain. Maka itu motivasi untuk terus berkembang tidaklah bisa ditawar-tawar karena ini memang keharusan yang terus digelorakan agar seluruh peserta bisa memastikan bisnisnya bermanfaat buat orang banyak dan mengembangkan bisnis akhirnya menjadi keharusan.

Bisnis harus terus berkembang dengan membuat banyak cabang, banyak mitra dll. Maka itu bagaimana membangun kemitraan? Bagaimana membangun franchise? Dan sederet pertanyaan lain untuk membuat bisnis anda berkembang menjadi kajian utamnya.

Anda juga akan belajar bagaimana membangun relasi bisnis, bagaimana membangun jejaring dalam bisnis. Seberapa pentingkah menggaet investor untuk bisnis anda?

Semua itu akan menjadi bahan pendampingan bisnis yang di bulan ini meliputi antara lain :

  1. Memantapkan kemampuan membangun jaringan bisnis
  2. Membangun system bisnis (SOP/standar operating procedure) dalam bisnis Franchise, Kemitraan, Business Opportunity (BO), distribusi, lisensi, dll.

BULAN VI

Bulan ini bulan terakhir dalam sesi pendampingan bisnis ini. Dua pertemuan terakhir akan digunakan untuk melakukan assesment  atau penilaian terhadap perkembangan bisinis yang dibangun setiap peserta. Hal tersebut untuk memastikan bahwa mereka telah memperoleh pengetahuan yang cukup untuk bisa mengembangkan bisnisnya dengan arah dan goal yang benar.  

Maka itu kajian diakhir masa pelatihan kewirausahaan dan pendampingan ini meliputi :

  1. Penilaian kesiapan mandiri dari setipa peserta
  2. Melepas kemampuan anggota memasuki pasar bebas

Selesai di bulan ke 6 ini diharapkan setiap peserta :

  1. Sudah memiliki pengetahuan dasar yang akan dijadikan kompas atau petunjuk arah dalam berbisnis selanjutnya. Dengan demikian setiap peserta akan menjadi pengusaha dengan arah dan tujuan yang jelas serta bagaimana meraihnya pun juga dengan arah yang jelas.
  2. Tolok ukur yang dijadikan barometer dari pelatihan ini adalah dimana setiap pengusaha pada beberapa tahun mendatang bisa memastikan BISNISNYA JALAN YANG PUNYA JALAN-JALAN.
  3. Setiap peserta akan menjadi alumni LPEC yang sukses dan tetap loyal pada perjuangan dan garis besar visi misi lembaga ini. Karena itu menyambungnya dalam komuintas para alumni menjadi sesuatu hal yang sangat berarti untuk menjamin bahwa diantara kita akan terus saling membantu untuk saling membesarkan kesuskesan bisnis kita semua secara bersama-sama sampai kapanpun, tanpa batas akhir. Karena inilah hakikat dari gerakan jihad iqtishodi (perjuangan ekonomi ummat) untuk merebut kembali aset milik ummat yang kini hilang di tangan orang lain.
  • TESITIMONI PARA ALUMNI
  • Ini model pelatihan kewirausahaan yang sangat cocok untuk pemula dan mereka yang ingin bisnisnya berkembang. Maju terus LPEC….. (Saiful, Jakarta)
  • Melalui pendampingan bisnis maka ini menjadi solusi dari pelatihan kewirausahaan yang selama ini hanya skedar berorientasi menghabiskan anggaran pemerintah… Lanjut terus bos…. (Subaning, Jakarta)
  • Saya betul-betul merasa diberikan arahan, petunjuk dan solusi yang tepat selama menjadi pengusaha herbal (Mustiko, Jogjakarta)
  • Setelah melihat profil para pengusaha yang dihasilkan dari pelatihan di sini (EC) seperti Pak Iwan, pengusaha ETS yang sangat suskses, maka sebagai peserta saya lebih mantap mengikuti seluruh proses pelatihan ini. Maju terus pengusaha Indonesia (Ainul Yakin, Bogor)
  • Saya setelah melihat para alumninya yang ternyata betul-betul menjadi pengusaha sukses maka saya semakin yakin bahwa ini bisa merupakan model pelatihan wirausaha yanhg tepat. Hasilnya riil dari pelatihan bisnis ini. Semoga semuanya bisa maju bersama LPEC. (Miftahul Huda, Bekasi)
  • Dahsyat…….

Program coaching coach Salim. Jalan sukses yang sangat membantu bisnis pemula dalam memulai, menjalani, mengembangkan impian bisnis. Peserta lebih instan dalam mengetahui rasa jadi pengusaha, problem dan lika-liku wirausaha modern terutama info market bisnis yang didalam krisis malahterbuka sangat besar.

Satu kata yang sangat menggugah dari coach Salim , “Jika semakin banyak anda pengusaha menemukan kata TIDAK (ditolak) dalam bisnis, maka sudah sangat dekat dengan pintu YA (Takdir, Rezeki dan Keberhasilan).

Maju bersama…..

Perbanyak persahabatan…..

Jalan indah untuk suskses

(Yanvi Alex, Batam)

  • Dst
  • PENUTUP

Semoga apa yang diuraikan di atas bisa membantu memperjelas informasi tentang proses pelatihan dan pendampingan di LPEC. Apabila ada yang belum jelas silahkan hubungi kami di nomor HP 081287996016, 081287996016atau email : khoerussalim1965@gmail.com

Semoga bermanfaat

Jakarta, 17 September 2015

LP Entrepreneur College

A.Khoerussalim Ikhs.

Presdir

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *